Posted on October 11, 2012.
Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada
masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5
(Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari
daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden
Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.
sebagai putra dari selir raden patahpun berusaha mendapatkan
kekuasaan, kawatir dengan kemauan raden patah yang dapat merusak tatanan
majapahit, sang prabu pun mengambil langkah untuk memberikan tlatah
gelagah wangi kepada raden patah, Raden Fatah mendirikan Kerajaan di
Glagah Wangi bernama demak bintoro
ternyata roda pemerintahan demak telah ditumpangi perwira-perwira
tiongkok yang dahulu berambisi menaklukan tanah jawa, sejak kegagalan
serangan pasukan tartar ke singosari. pasukan pasukan tiongkok berusaha
terus rongrongan terhadap kerajaan-kerajaan jawa dengan memasukan
wanita-wanita tiongkok untuk dijadikan selir raja-raja jawa.
Dengan menggunakan bendera keislaman demak berhasil mengambil hati
rakyat-rakyat jawa,pembentukan dewan wali pun dijadikan pondasi
penggalangan kekuatan untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di tanah
jawa.hingga akhirnya demakpun menginginkan majapahit tunduk takluk
dibawah perintahnya, Sang prabu brawijaya gundah karena merasa demak
adalah putranya dan beliaupun tidak ingin perang saudara terjadi di
antara putra-putranya kelak.
Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu.
Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi
memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit
yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu
kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.
Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya
yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang
praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. demi penyamaran sang prabu
menjalani hidupnya sebagai pertapa dan bergelar “SUNAN LAWU”.Sebelum
sampai di puncak, beliau bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni
Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua
orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi
bersama ke puncak Harga Dalem.
singkat cerita sunan lawu yang pernah banyak menimba ilmu islam dari
maulana malik ibrahim yakni sunan gresik pun mengajarkan makrifat islam
di gunung lawu. diantara anak muridnya adlah syeck siti jenar,bahkan
atas perintah sunan bonangpun sunan kalijogo,sunan gunung jati,dan sunan
kuduspun sempat menimba ilmu pada sunan lawu…
hingga akhir cerita Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang
setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan
dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi
penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke
barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga
gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai
dengan pantai utara bergelar eyang lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau
kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.
Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan
diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga
pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan
meninggalkan Sang Prabu di sini, Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga
Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah eyang Lawu
Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan
kesempurnaan ilmunya keduanya, kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga
kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar